Cari Blog Ini

Jumat, 22 Juni 2012

Jadilah Orang Yang Paling Bahagia

Hatta Takuna As’adan Nas, Jadilah orang yang paling bahagia. Sering kali dengan mudahnya diri ini merasa menjadi orang yang paling tidak bahagia hanya karena sebuah permasalahan ataupun kesedihan yang sedang mendera.
Padahal banyak disekeliling kita yang perlu disyukuri dan dinikmati sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup yang mungkin suatu hari akan membuat diri ini tersenyum saat mengenangnya. Mungkin sangat sulit untuk tersenyum pada saat hati kita menangis. Namun percayalah, bila malam telah sempurna kegelapannya maka akan datang subuh dengan cahayanya. Karena Allah selalu memberikan kelonggaran terhadap setiap ujian yang diberikanNya. Dan dengan keimanan semua permasalahan akan menjadi lebih mudah, apalagi bila disertai dengan memperbanyak dzikir. Maka hati akan semakin tenang menghadapinya. Mungkin bila orang yang belum memahami dengan benar akan berkata “mana mungkin iman bisa membuat kita kenyang dan bahagia”. Padahal surga yang dipilih mungkin sebenarnya adalah neraka dan yang tampak seperti neraka yang telah ia abaikan itulah surga yang sebenarnya. Terkadang setiap orang takut menderita dan kelaparan sehingga menghalalkan segala cara. Kehidupan adalah sebuah kesempatan yang tidak kita kenali, dan baru akan kita pahami setelah kita kehilangannya, dan kesehatan sering tidak disyukuri dan baru setelah terbaring lemas kita menjadi sangat menginginkannya. Sedangkan orang-orang disekeliling yang sering diabaikan akan sangat dirindukan setelah kita ditinggalkan dan kesepian. Tatkala kita dirundung kesedihan dan membuat air  mata ini tidak henti-hentinya menentes mungkin pada saat itu Allah sedang mengajarkan bagaimana caranya untuk tersenyu  penuh keikhlasan. Mungkin pula tatkala perut ini merasakan sakit dan kelaparan sebenarnya Allah sedang mengajarkan bagaimana caranya mengendalikan hawa nafsu dan ketamakan. Dan pada saat kita mengalami kegagalan, Allah sedang mengajarkan arti kemenangan yang sesungguhnya. Dan pada saat kita merasa sedih karen kehilangan orang yang dicinta, sesungguhnya Allah sedang mengajari kita bagaimana cara mencintai yang benar dan mengingatkan bahwa tidak ada yang pantas menandingi cinta kepadaNya. Semuanya bergantung darimana kita memandang setiap permasalahan yang datang. Hidup adalah proses. Sebuah proses yang akan menempa diri ini sehinga ke-AKU-annya hilang tak berbekas dan berganti dengan kepasrahan kepada Sang Pencipta. Layaknya emas yang memancarkan cahayanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar